Pagi ini adalah pagi-pagiku yang sama, yang penuh sekali dengan kesibukan. Yah... memang banyak kesibukanku di setiap paginya. Mulai dari beresin muka, beresin kosan, hingga beresin sisa-sisa mimpi indah semalam. Memang hanya mimpi, mimpi yang begitu nyata bagiku. Seperti seseorang yang sok banyak kesibukan disetiap paginya.
Setelah semuanya beres, lanjut ke-kesibukan lainnya yaitu bawa laptop kepinggir kosan sambil bersandar pada dinding dan memesan kopi susu khas ala ibu warung. membuka beberapa situs sebagai referensi dan bahan untuk bisa cepat keluar (lulus) dari tempat yang begitu angker (kampus). Tentu terlihat membosankan bagi mereka yang tak tau diriku sebenarnya. Namun terkadang perhatianku teralihkan oleh seseorang yang selalu hadir disampingku, meskipun itu hanya ilusi. Sekali lagi memang hanya ilusi, ilusi yang begitu nyata bagiku. Sebagai seorang yang selalu sendiri.
Beranjak ketika matahari ingin menembakkan sinar panasnya kearahku, kembali kubereskan laptop dan segelas kopi susuku yang telah kosong masuk kedalam kosan. Oh iya, aku lupa memperkenalkan seonggok daging yang masih tertidur pulas didalam kosanku. Dia orang terkeren di dunianya, yaps... dia teman kosku, kan... aku tidak sendiri. Setelah semuanya beres, aku bergegas masuk kedalam ruang yang menurutku penuh sekali dengan inspirasi. Kamar mandi, aku berlama-lama disitu hingga otakku tak cukup untuk menerima setiap inspirasi-inspirasi yang datang dan akhirnya keluar. Keluar dari ruang inspirasi ini, aku bersiap untuk melakukan hal yang barulah menurutku membosankan "kuliyah". Terlihat begitu membosankan, namun dari belakang seolah ada yang terus memotivasiku walau hanya perasaanku saja. Sekali lagi memang hanya perasaanku saja, perasaan yang begitu nyata bagiku. Layaknya seseorang yang hampir tak memiliki arah dan tujuan.
Sore pun tiba, setelah selesai kuliyah lantas aku tidak langsung bergegas pulang, biasanya diriku terhenti di pojokan basement kampus yang agak kumuh namun telah banyak melahirkan tokoh-tokoh muda berintelektual. Yah... aku duduk dan berdiskusi dengan banyak orang, mengomentari beberapa persepsi tokoh terdahulu, mengulas sejarah peradaban ilmu, hingga membahas sesuatu yang tak pantas untuk dibahas. Begitulah soreku, namun seketika angin tak berhembus, waktu seolah berhenti dan semuanya terdiam hingga aku mendengar bisikan lembut yang menuntunku agar tetap semangat dan optimis dalam belajar. Dan sekali lagi, itu memang hanya bisikan, bisikan yang begitu nyata bagiku. Bagaikan seseorang yang akan menemukan kebuntuan.
Hitam akhirnya menyelimuti kawasan terlarang ini (Ciputat). Malam seolah menjadi tanda bahwa kawasan ini akan menjadi daerah teramai sedunia versiku. Tak peduli dengan hingar bingar malam, aku langsung bergegas pulang. Kusempatkan singgah di salah satu kosan temanku guna meminta sedikit harapan, karena temanku yang terkeren sedunia itu telah bangun dan mengirimkan pesan padaku supaya membawakan sedikit makanan. Pulang sampai kosan dengan membawa sekantong plastik hitam penuh dan beberapa menyan (rokok), kita santap berdua dan sedikit bertanya-jawab dengan kesibukan masing-masing, meskipun temanku yang satu ini cuman tidur tapi dia menceritakan perjalanan tidurnya. Setelah usai makan, kurebahkan tubuh disamping kosan namun seolah ada bayangan yang menemaniku dan meletakkan kepalanya pada sebelah tanganku. Yaps... lagi-lagi meskipun ini hanya bayangan, itu adalah bayangan yang sangat begitu nyata bagiku. Ingin sekali ku menjadi seseorang yang paling bahagia di dunia ini dengan ditemani dirimu.
Tau kah kau May, kalau semua yang telah kuceritakan ini adalah harapanku untuk bisa memilikimu. Menjadi keindahan disetiap mimpiku, yang selalu ada disampingku, motivatorku, penuntun dan penyemangatku, hingga menjadi kenyataan bagiku.
Betul May... itu dirimu.
Setelah semuanya beres, lanjut ke-kesibukan lainnya yaitu bawa laptop kepinggir kosan sambil bersandar pada dinding dan memesan kopi susu khas ala ibu warung. membuka beberapa situs sebagai referensi dan bahan untuk bisa cepat keluar (lulus) dari tempat yang begitu angker (kampus). Tentu terlihat membosankan bagi mereka yang tak tau diriku sebenarnya. Namun terkadang perhatianku teralihkan oleh seseorang yang selalu hadir disampingku, meskipun itu hanya ilusi. Sekali lagi memang hanya ilusi, ilusi yang begitu nyata bagiku. Sebagai seorang yang selalu sendiri.
Beranjak ketika matahari ingin menembakkan sinar panasnya kearahku, kembali kubereskan laptop dan segelas kopi susuku yang telah kosong masuk kedalam kosan. Oh iya, aku lupa memperkenalkan seonggok daging yang masih tertidur pulas didalam kosanku. Dia orang terkeren di dunianya, yaps... dia teman kosku, kan... aku tidak sendiri. Setelah semuanya beres, aku bergegas masuk kedalam ruang yang menurutku penuh sekali dengan inspirasi. Kamar mandi, aku berlama-lama disitu hingga otakku tak cukup untuk menerima setiap inspirasi-inspirasi yang datang dan akhirnya keluar. Keluar dari ruang inspirasi ini, aku bersiap untuk melakukan hal yang barulah menurutku membosankan "kuliyah". Terlihat begitu membosankan, namun dari belakang seolah ada yang terus memotivasiku walau hanya perasaanku saja. Sekali lagi memang hanya perasaanku saja, perasaan yang begitu nyata bagiku. Layaknya seseorang yang hampir tak memiliki arah dan tujuan.
Sore pun tiba, setelah selesai kuliyah lantas aku tidak langsung bergegas pulang, biasanya diriku terhenti di pojokan basement kampus yang agak kumuh namun telah banyak melahirkan tokoh-tokoh muda berintelektual. Yah... aku duduk dan berdiskusi dengan banyak orang, mengomentari beberapa persepsi tokoh terdahulu, mengulas sejarah peradaban ilmu, hingga membahas sesuatu yang tak pantas untuk dibahas. Begitulah soreku, namun seketika angin tak berhembus, waktu seolah berhenti dan semuanya terdiam hingga aku mendengar bisikan lembut yang menuntunku agar tetap semangat dan optimis dalam belajar. Dan sekali lagi, itu memang hanya bisikan, bisikan yang begitu nyata bagiku. Bagaikan seseorang yang akan menemukan kebuntuan.
Hitam akhirnya menyelimuti kawasan terlarang ini (Ciputat). Malam seolah menjadi tanda bahwa kawasan ini akan menjadi daerah teramai sedunia versiku. Tak peduli dengan hingar bingar malam, aku langsung bergegas pulang. Kusempatkan singgah di salah satu kosan temanku guna meminta sedikit harapan, karena temanku yang terkeren sedunia itu telah bangun dan mengirimkan pesan padaku supaya membawakan sedikit makanan. Pulang sampai kosan dengan membawa sekantong plastik hitam penuh dan beberapa menyan (rokok), kita santap berdua dan sedikit bertanya-jawab dengan kesibukan masing-masing, meskipun temanku yang satu ini cuman tidur tapi dia menceritakan perjalanan tidurnya. Setelah usai makan, kurebahkan tubuh disamping kosan namun seolah ada bayangan yang menemaniku dan meletakkan kepalanya pada sebelah tanganku. Yaps... lagi-lagi meskipun ini hanya bayangan, itu adalah bayangan yang sangat begitu nyata bagiku. Ingin sekali ku menjadi seseorang yang paling bahagia di dunia ini dengan ditemani dirimu.
Tau kah kau May, kalau semua yang telah kuceritakan ini adalah harapanku untuk bisa memilikimu. Menjadi keindahan disetiap mimpiku, yang selalu ada disampingku, motivatorku, penuntun dan penyemangatku, hingga menjadi kenyataan bagiku.
Betul May... itu dirimu.

0 komentar:
Posting Komentar